Kamis, Juli 17, 2014

Puasa dan Diabetes Melitus



Berdasarkan ilmu kedokteran, seseorang yang mengalami diabetes masih diperbolehkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan sejauh memenuhi aturan-aturan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi diabetesnya. Puasa bagi orang diabetes jika tidak dipersiapkan dengan baik, selain dapat membahayakan jiwa, juga dapat mengganggu kekhusyukan ibadah itu sendiri. Oleh karena itu penting sekali bagi orang yang mengalami diabetes melitus yang ingin berpuasa untuk memahami kondisi diabetes yang memungkinkannya untuk berpuasa secara aman.

Diabetes melitus merupakan salah satu contoh dari kondisi dimana tubuh kekurangan salah satu hormon yang dinamakan insulin. Hormon ini berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh kurangnya jumlah dan kerja insulin dalam tubuh.
Insulin di dalam tubuh diproduksi oleh suatu kelenjar yang disebut pankreas. Pada orang yang tidak mengalami diabetes, pengeluaran insulin dari pankreas diantaranya dipicu oleh adanya glukosa yang masuk ke dalam darah.


Glukosa tersebut dapat berasal dari asupan makanan yang mengandung karbohidrat. Kadar glukosa yang normal di dalam darah (60mg/dL-150mgdL) sangat diperlukan untuk memberikan asupan energi bagi kerja sel-sel penting dalam tubuh, seperti sel otak, sel saraf, sel darah, sel otot dan lain-lain.


Dengan bantuan insulin inilah melalui suatu proses yang rumit, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan digunakan untuk pembentukan energi dan sisanya akan disimpan sebagai cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam hati (liver) dan otot sebagai zat yang dikenal dengan nama glikogen.


Sebaliknya, dalam keadaan puasa dimana asupan makanan menurun maka produksi dan penggunaaan insulin juga akan menurun. Dalam kondisi ini, aktifitas hormon tubuh lain seperti glukagon (hormon yang berfungsi untuk menaikan kadar gula dalam darah) dan katekolamin (zat yang dapat meningkatkan kerja organ-organ dalam tubuh) sebaliknya akan meningkat untuk membantu pemecahan cadangan makanan atau energi yang ada dalam tubuh atau yang telah disebutkan diatas sebagai glikogen.


Karena puasa berlangsung selama 14 jam, maka cadangan glikogen dalam tubuh jumlahnya akan menurun. Rendahnya kadar glikogen dalam tubuh akan merangsang tubuh untuk memecah atau membakar lemak sebagai bahan makanan dan sumber energi lain bagi tubuh.


 


Training Provider-Travel Agent-General Trading
Ticketing-Tour-Hotel-Keagenan
All About Jogja dan Semarang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan kasih comment disini. Blog ini sudah dofollow